فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ" : Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman [55] )

Pusat Ternakan : Lot 389, Dusun Durian, Kampung Belau Merbok, 08400 Merbok, Kedah.




Tuesday, 27 October 2015

Kisah Teladan Haiwan Untuk Kanak2 - Kesaksian Kambing Panggang


Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:
Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun.
 
Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun”. 

Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. 

Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. 

Inilah saatnya urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]

arkib : final kandang kambing ...

pandangan dari jauh

dinding telah siap

pandangan sisi

bilik in progress

Kisah Seorang Penjual Kambing Kurban yang Menangis

 

Setahun sekali, melalui Idul Adha ini, bagi umat muslim yang mampu diperintahkan untuk berkorban dengan bentuk pengorbanan binatang, baik itu sapi maupun kambing.
menangis-pria-kam_20150917_191445
Syariat ini berasal dari peristiwa pengorbanan hewan yang biasa dilakukan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam. Ibrahim memang suka berkurban dengan ratusan bahkan ribuan hewan ternak yang dimiliki sebagai bentuk menjalankan perintah Allah.
“Jangankan harta, anak pun akan kukorbankan kalau itu perintah Allah,” demikianlah kalimat yang Nabi Ibrahim keluarkan ketika diatanya oleh umatnya.
Lantas, apakah kita yang memiliki kemampuan secara materi sudah mengeluarkan sedikit dari harta kita untuk berkurban? Semoga kisah berikut ini bisa memberi kita kesadaran tentang berkurban.
Kisah ini dituturkan oleh seorang penjual hewan kurban. Ia tak sanggup menahan tangis saat mengetahui siapa sebenarnya orang yang membeli seekor kambing darinya di hari itu. Ketika Anda membaca kisah ini dengan hati, Anda pun dijamin tak kuasa menahan air mata.
Inilah penuturan kisahnya:
Idul adha kian dekat. Semakin banyak orang yang mengunjungi stan hewan kurbanku. Sebagian hanya melihat-lihat, sebagian lagi menawar dan alhamdulillah tidak sedikit yang akhirnya membeli. Aku menyukai bisnis ini, membantu orang mendapatkan hewankurban dan Allah memberiku rezeki halal dari keuntungan penjualan.
Suatu hari, datanglah seorang ibu ke stanku. Ia mengenakan baju yang sangat sederhana, kalau tidak boleh dibilang agak kumal. Dalam hati aku menyangka ibu ini hanya akan melihat-lihat saja. Aku mengira ia bukanlah tipe orang yang mampu berkurban.
Meski begitu, sebagai pedagang yang baik aku harus tetap melayaninya.
“Silahkan Bu, ada yang bisa saya bantu?”
“Kalau kambing itu harganya berapa, Pak?” tanyanya sambil menunjuk seekor kambing yang paling murah.
“Itu 700 ribu Bu,” tentu saja harga itu bukan tahun ini. Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu.
“Harga pasnya berapa?”
Wah, ternyata ibu itu nawar juga.
“Bolehlah 600 ribu, Bu. Itu untungnya sangat tipis. Buat ibu, bolehlah kalau ibu mau.”
“Tapi, uang saya Cuma 500 ribu, Pak. Boleh?” kata ibu itu dengan penuh harap. Keyakinanku mulai berubah.
Ibu ini benar-benar serius mau berkurban. Mungkin hanya tampilannya saja yang sederhana tapi sejatinya ia bukanlah orang miskin. Nyatanya ia mampu berkurban.
“Baik lah, Bu. Meskipun tidak mendapat untung, semoga ini barakah,” jawabku setelah agak lama berpikir. Bagaimana tidak, 500 ribu itu berarti sama dengan harga beli. Tapi melihat ibu itu, aku tidak tega menolaknya.
Aku pun kemudian mengantar kambing itu ke rumahnya. “Astaghfirullah… Allaahu akbar…” Aku terperanjat.
Rumah ibu ini tak lebih dari sebuah gubuk berlantai tanah. Ukurannya kecil, dan di dalamnya tidak ada perabot mewah.
Bahkan kursi, meja, barang-barang elektronik, dan kasur pun tak ada. Hanya ada dipan beralas tikar yang kini terbaring seorang nenek di atasnya.
Rupanya nenek itu adalah ibu dari wanita yang membeli kambing tadi. Mereka tinggal bertiga dengan seorang anak kecil yang tak lain adalah cucu nenek tersebut.
“Emak, lihat apa yang Sumi bawa,” kata ibu yang ternyata bernama Sumi itu.
1340357Kambing-cacingan-dan-belu-cukup-Umur-2-780x390
Yang dipanggil Emak kemudian menolehkan kepalanya, “Sumi bawa kambing Mak. Alhamdulillah, kita bisa berkurban.”
Tubuh yang renta itu duduk sambil menengadahkan tangan. “Alhamdulillah… akhirnya kesampaian juga Emak berkurban. Terima kasih ya Allah…”
“Ini uangnya Pak. Maaf ya kalau saya nawarnya terlalu murah, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk membeli kambing buat kurban atas nama Emak,” kata Bu Sumi.
Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa dalam hati.
“Ya Allah. Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan imannya begitu luar biasa”.
“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu.
“Sudah bu, biar ongkos kendaraannya saya yang bayar”, jawabku sambil cepat-cepat berpamitan, sebelum Bu Sumi tahu kalau mata ini sudah basah karena karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.
Untuk menjadi mulia, ternyata tak harus menunggu kaya. Untuk mampu berkurban, ternyata yang dibutuhkan adalah kesungguhan.
Kita jauh lebih kaya dari Bu Sumi. Rumah kita bukan gubuk, lantainya keramik. Ada kursi, ada meja, ada perabot hingga TV di rumah kita. Ada kendaraan.
Bahkan, HP kita lebih mahal dari harga kambing kurban. Tapi sudah sungguh-sungguhkah kita mempersiapkan kurban?
Jika kita sebenarnya mampu berkurban, tapi tak mau berkurban, hendaklah kita takut dengan sabda Rasulullah ini:
“Barangsiapa yang memiliki kelapangan untuk berkurban namun dia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami” (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Al Hakim).

arkib : kerja-kerja membuat lantai kandang ....

kerja memaku lantai

ada yang masih belum siap

pandangan sisi

tauke mai tengok ker tuh ???

Kisah Kambing dan Buaya


          Pada suatu hari di dalam hutan terdapat sekumpulan kambing, buaya, dan hewan lainnya. Pada saat itu hutan itu berganti musim menjadi kemarau, sehingga rumput-rumput yang hijau menjadi kuning kering. Kambing pun mulai merasa bosan memakan dedaunan dan rumput-rumput yang kering tersebut, dan seekor kambing pun pergi mencari rumput yang segar, tak lama kemudian kambing itu melihat ladang rumput yang begitu segar diseberang sungai, dan kambing pun pulang memberi kabar ke teman-teman yang lainnya, dan mengajaknya keseberang sungai tersebut. Keesokan harinya segerombolan kambing yang berjumlah 10 ekor kambing pergi menghampiri sungai, namun ketika sampai sungai segerombolan kambing mendapatkan hambatan melihat sekumpulan buaya berada di sungai itu.
 
Kambing : Bagaimana ini? (kebingungan dan merasa ketakutan)
Buaya      : kenyanglah aku !! (sambil tertawa)
Tak lama kemudian datanglah seekor kancil yang cerdik.
Kambing   : kancil, tolonglah kami (sambil mengemis)
Kancil         : kalian kenapa?
Kambing    : kami semua ini ingin menyeberangi sungai itu.
Kancil          : masalahnya apa kambing mengapa kalian ingin bantuan saya?
Kambing    : ada buaya disungai itu yang siap memakan kami.
Kancil          : iya kambing tunggu sejenak (sambil berpikir)
Beberapa menit kemudian. Sang kancil pun mendapatkan ide cara untuk menyeberangi sungai tersebut.
 Kambing   : kamu yakin kancil cara ini akan berhasil?
 Kancil         : iya kambing, ingat lakukan dengan bekerja sama. Saya pergi dulu yaa
 Kambing    : baik kancil terimakasih, berhati-hatilah dijalan.
 
    Para buaya pun heran melihat si kambing yang terpisah terbagi menjadi 2 kelompok. Namun para buaya tidak menghiraukannya ia hanya memikirkan cara memakan si kambing-kambing itu. Gerombolan kambing pun mulai melakukan cara yang disampaikan si kancil yaitu dengan cara membagi 2 kelompok, dimana setiap kelompok terdiri dari 5 ekor disebelah kiri dan kanan sungai. Kalian lakukan cara ini dengan kerja sama. Kambing disebelah kanan pun mulai meloncat kesungai buaya pun dengan sigap ingin menangkap kambing itu, namun karena kambing di sebelah kiri ikut turun meloncat kesungai si buaya pun berputar arah ke sebelah kiri di kambing yang baru turun kesungai itu, begitupun seterusnya, sehingga buaya tak sadar kambing sudah sampai satu persatu ke seberang sungai tersebut.  
  Kambing pun berhasil menyeberangi sungai dengan selamat berkat kerjasama yang mereka lakukan.
 
SEKIAN
 
 Cerita ini mengajarkan kita untuk saling bekerja sama dalam menghadapi suatu rintangan.

arkib : backhoe lintas parit ...

rakaman visual,
sebuah backhoe dipandu oleh pakar,
melintas parit besar di kawasan tapak peojek ternakan.
kredit untuk drebar ....

Friday, 23 October 2015

arkib : penanaman rumput di kawasan ragut ...

tanam rumput napier ...

benih ambil lading sebelah

penat juga tanam rumput neh

tanam rumput, lambat laun mendapat faedah ...